
Jakarta, 18 Agustus 2026 – Setiap organisasi memiliki dinamika, tantangan, dan kebutuhan yang berbeda dalam menjalankan aktivitasnya. Perubahan lingkungan bisnis, perkembangan teknologi, tuntutan terhadap sumber daya manusia, hingga perubahan budaya kerja dapat memengaruhi efektivitas sebuah organisasi. Oleh karena itu, organisasi perlu memiliki kemampuan untuk mengenali berbagai permasalahan secara tepat sebelum menentukan langkah pengembangan yang sesuai.
Diagnosis organisasi menjadi salah satu proses penting dalam memahami kondisi internal organisasi secara menyeluruh. Melalui diagnosis yang sistematis, organisasi dapat mengidentifikasi berbagai faktor yang memengaruhi kinerja, baik yang berasal dari tingkat organisasi, kelompok, maupun individu. Hasil diagnosis tersebut kemudian dapat menjadi dasar dalam menentukan program intervensi yang tepat sehingga proses pengembangan organisasi dapat dilakukan secara terarah dan berkelanjutan.
Sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan kompetensi profesional, ESAS Management menyelenggarakan Program Pelatihan & Sertifikasi Diagnosing Organization Development Batch #03. Program ini dirancang untuk memberikan pemahaman kepada peserta mengenai konsep dan metode diagnosis organisasi serta bagaimana hasil diagnosis dapat digunakan sebagai dasar dalam merancang intervensi pengembangan organisasi.
Pelatihan Diagnosing Organization Development Batch #03 dilaksanakan pada Selasa, 18 Agustus 2026, pukul 19.30–22.00 WIB secara daring melalui Zoom Live Meeting. Pelaksanaan pelatihan secara online memberikan fleksibilitas bagi peserta untuk mengikuti kegiatan dari berbagai daerah sekaligus tetap mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi dan berdiskusi selama proses pembelajaran.
Program ini menjadi relevan bagi para profesional yang berkaitan dengan pengelolaan organisasi dan sumber daya manusia, termasuk praktisi Human Resources, Human Capital, manajer, supervisor, konsultan, maupun individu yang ingin memperluas pemahaman mengenai pengembangan organisasi. Kemampuan melakukan diagnosis organisasi juga dapat menjadi bekal penting bagi seorang pemimpin dalam memahami permasalahan sebelum mengambil keputusan strategis.
Pelatihan ini menghadirkan Feri Handata, A.Md., SM., CHCS., C.T., COAM., C.Ps. sebagai fasilitator. Berdasarkan informasi pada poster, fasilitator memiliki pengalaman sebagai Master Trainer ESAS Management, Human Resources, serta OD dan People Development. Pengalaman tersebut menjadi salah satu pendukung dalam penyampaian materi karena peserta tidak hanya memperoleh pemahaman konseptual, tetapi juga dapat melihat bagaimana proses diagnosis dan pengembangan organisasi diterapkan dalam konteks sumber daya manusia dan pengelolaan organisasi.
Materi pertama yang diberikan adalah Model Komprehensif untuk Mendiagnosis Sistem Organisasi. Materi ini menjadi landasan bagi peserta untuk memahami bahwa organisasi merupakan suatu sistem yang terdiri dari berbagai unsur yang saling berkaitan. Permasalahan dalam satu bagian organisasi dapat memberikan pengaruh terhadap bagian lainnya sehingga proses diagnosis tidak dapat dilakukan hanya dengan melihat satu aspek secara terpisah.
Melalui pemahaman terhadap model diagnosis yang komprehensif, peserta dapat belajar melihat organisasi secara lebih menyeluruh. Proses diagnosis perlu mempertimbangkan berbagai faktor yang memengaruhi keberlangsungan organisasi, termasuk struktur, strategi, sumber daya manusia, budaya, pola kerja, serta faktor lain yang berkaitan dengan pencapaian tujuan organisasi.
Materi selanjutnya membahas Diagnosis Tingkat Organisasi: Visi, Misi, Strategi, Struktur, dan Budaya. Pada tingkat organisasi, visi dan misi menjadi dasar yang menentukan arah perjalanan organisasi. Strategi kemudian menjadi instrumen untuk mencapai tujuan tersebut, sedangkan struktur organisasi mengatur pembagian peran, tanggung jawab, serta hubungan kerja antarbagian.
Budaya organisasi juga memiliki peran yang sangat penting. Budaya mencerminkan nilai, kebiasaan, pola perilaku, serta cara anggota organisasi berinteraksi dan menjalankan pekerjaan. Organisasi yang memiliki visi dan strategi yang baik tetap dapat menghadapi hambatan apabila budaya kerja yang berkembang tidak mendukung pencapaian tujuan. Oleh sebab itu, diagnosis terhadap tingkat organisasi perlu memperhatikan keterkaitan antara visi, misi, strategi, struktur, dan budaya.
Peserta kemudian mendapatkan materi Diagnosis Tingkat Kelompok: Peran Tim, Pola Komunikasi, dan Dinamika Kerja Sama. Organisasi pada dasarnya terdiri dari individu-individu yang bekerja dalam kelompok atau tim. Efektivitas organisasi sangat dipengaruhi oleh bagaimana anggota tim menjalankan perannya, berkomunikasi, serta membangun kerja sama.
Dalam lingkungan kerja, permasalahan kelompok dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti pembagian tugas yang kurang jelas, komunikasi yang tidak efektif, konflik antaranggota, maupun kurangnya koordinasi. Melalui diagnosis pada tingkat kelompok, berbagai permasalahan tersebut dapat dikenali sehingga organisasi dapat menentukan intervensi yang lebih sesuai.
Pemahaman mengenai pola komunikasi juga menjadi bagian penting dalam proses diagnosis. Komunikasi yang terbuka dan efektif dapat membantu anggota tim menyampaikan informasi, memberikan masukan, menyelesaikan permasalahan, serta membangun kepercayaan. Sebaliknya, komunikasi yang tidak berjalan dengan baik dapat menyebabkan kesalahpahaman dan menghambat pencapaian tujuan bersama.
Materi berikutnya adalah Diagnosis Tingkat Individu: Motivasi, Kompetensi, dan Pengembangan Karier. Individu merupakan salah satu elemen utama dalam organisasi. Karena itu, kondisi dan kebutuhan individu perlu dipahami ketika organisasi melakukan proses diagnosis.
Motivasi dapat memengaruhi bagaimana seseorang menjalankan pekerjaan dan memberikan kontribusi terhadap organisasi. Selain motivasi, kompetensi juga menjadi faktor penting yang menentukan kemampuan seseorang dalam melaksanakan tugas. Organisasi perlu mengetahui apakah kompetensi yang dimiliki karyawan telah sesuai dengan tuntutan pekerjaan dan kebutuhan organisasi.