Jakarta — ESAS Management di bawah naungan PT ESAS Edukasi Indonesia kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kompetensi profesional melalui penyelenggaraan pelatihan Project Manager for Agile, Scrum and PRINCE2 (CPM-ASP). Program pengembangan kompetensi tersebut dilaksanakan pada Senin, 20 Juli 2026, pukul 19.30–21.30 WIB, dengan menghadirkan materi manajemen proyek yang relevan terhadap kebutuhan organisasi dan industri modern.

Pelatihan CPM-ASP dirancang untuk membantu peserta memahami pendekatan manajemen proyek yang adaptif, terstruktur, dan berorientasi pada hasil. Melalui penggabungan pembahasan mengenai Agile, Scrum, dan PRINCE2, peserta memperoleh wawasan mengenai bagaimana sebuah proyek dapat direncanakan, dijalankan, dipantau, dievaluasi, serta disesuaikan ketika terjadi perubahan kebutuhan maupun kondisi di lapangan.

Program ini dipandu langsung oleh Fauzan Daffa, S.T., M.M., MCSM., MQAA., MBM., CIPM., CTEM., Dipl. PM., selaku Master Trainer ESAS Management. Fauzan Daffa memiliki pengalaman sebagai praktisi marketing dan operasional proyek selama tujuh tahun serta merupakan trainer profesional berlisensi International Project Manager. Latar belakang tersebut menjadikan pembelajaran tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga pada penerapan metode manajemen proyek dalam situasi kerja yang nyata.

Seluruh rangkaian kegiatan dimoderatori oleh Arwan Priyadinata, yang memandu pembukaan, penyampaian materi, interaksi antara trainer dan peserta, hingga sesi diskusi. Kehadiran moderator membantu kegiatan berlangsung secara terarah, komunikatif, dan memberikan kesempatan kepada peserta untuk mendalami materi sesuai dengan kebutuhan profesional mereka.

Dalam dunia kerja yang semakin dinamis, kemampuan mengelola proyek telah menjadi salah satu kompetensi penting bagi berbagai profesi. Perubahan kebutuhan pelanggan, perkembangan teknologi, keterbatasan sumber daya, target waktu, serta tekanan terhadap kualitas membuat organisasi membutuhkan tenaga profesional yang mampu bekerja secara fleksibel tanpa kehilangan arah dan pengendalian proyek.

Pendekatan Agile memberikan kerangka kerja yang memungkinkan tim merespons perubahan secara cepat dan bertahap. Sementara itu, Scrum membantu tim mengelola pekerjaan melalui pembagian peran, prioritas, siklus kerja pendek, serta evaluasi berkala. Adapun PRINCE2 menawarkan pendekatan manajemen proyek yang terstruktur melalui prinsip, tema, proses, tata kelola, dan pembagian tanggung jawab yang jelas.

Materi pelatihan diawali dengan pengenalan Agile dan Scrum, termasuk karakteristik, tujuan, serta alasan kedua pendekatan tersebut banyak digunakan dalam pengelolaan proyek modern. Peserta kemudian mempelajari framework metode Agile dan Scrum sebagai dasar untuk memahami bagaimana pekerjaan dapat dibagi ke dalam tahapan yang lebih terukur dan mudah dievaluasi.

Pembahasan dilanjutkan dengan materi mengenai peran serta tanggung jawab dalam Agile dan Scrum. Pemahaman terhadap pembagian peran sangat penting untuk mencegah tumpang tindih pekerjaan dan memastikan setiap anggota tim mengetahui kontribusi yang harus diberikan. Peserta juga mendapatkan materi tentang perencanaan metode Agile dan Scrum, mulai dari penentuan kebutuhan, prioritas pekerjaan, pembagian aktivitas, hingga penyusunan target dalam setiap periode kerja.

Dalam materi manajemen proyek dengan Agile dan Scrum, peserta diarahkan untuk memahami bagaimana komunikasi, kolaborasi, pemantauan progres, dan evaluasi dapat dilakukan secara berkelanjutan. Pembelajaran kemudian diperkuat melalui pembahasan mengenai implementasi metode Agile dan Scrum, sehingga peserta dapat menghubungkan konsep yang dipelajari dengan tantangan proyek di lingkungan kerja.

Selain Agile dan Scrum, pelatihan ini membahas pengenalan, prinsip-prinsip, tema, dan proses PRINCE2. Materi tersebut memberikan perspektif mengenai pentingnya tata kelola proyek, pengendalian risiko, pembagian tanggung jawab, dokumentasi, serta pengambilan keputusan pada setiap tahapan proyek.

Peserta juga mempelajari penyesuaian PRINCE2 untuk proyek. Penyesuaian diperlukan karena setiap proyek memiliki skala, kebutuhan, tingkat risiko, struktur organisasi, dan sumber daya yang berbeda. Oleh karena itu, metode PRINCE2 tidak sekadar diterapkan secara kaku, tetapi perlu disesuaikan agar tetap proporsional dan relevan dengan karakteristik proyek.

Materi berikutnya mencakup review dan adaptasi proyek, yaitu proses mengevaluasi pelaksanaan proyek berdasarkan hasil, kendala, perubahan kebutuhan, dan masukan dari pihak terkait. Peserta diajak memahami bahwa evaluasi bukan hanya dilakukan ketika proyek selesai, tetapi juga selama proyek berlangsung agar potensi masalah dapat diketahui dan ditangani lebih awal.

Untuk memperkuat pemahaman, trainer menyampaikan contoh dan studi kasus yang menggambarkan penerapan Agile, Scrum, dan PRINCE2 dalam pengelolaan proyek. Pendekatan ini membantu peserta melihat hubungan antara konsep manajemen proyek dengan praktik operasional, koordinasi tim, penyelesaian masalah, dan pencapaian tujuan organisasi.

Sebagai bagian dari program pengembangan kompetensi, peserta memperoleh gelar nonakademik CPM-ASP setelah memenuhi ketentuan program. Peserta juga mendapatkan sertifikat kehadiran dan kelulusan yang dapat digunakan sebagai bukti partisipasi serta pengembangan kemampuan profesional.

Fasilitas pembelajaran lainnya meliputi e-modul pelatihan yang dapat digunakan sebagai bahan belajar mandiri dan rekaman pelatihan untuk membantu peserta meninjau kembali materi yang telah disampaikan. Peserta juga memperoleh akses mengulang kelas, sehingga proses pembelajaran tidak berhenti setelah sesi utama selesai. Selain mendapatkan materi dan fasilitas pembelajaran, peserta bergabung dalam Grup Bina Alumni ESAS Management. Grup tersebut menjadi ruang untuk menjaga komunikasi, memperluas jaringan profesional, memperoleh informasi mengenai kegiatan berikutnya, serta berinteraksi dengan alumni dari berbagai latar belakang pendidikan dan pekerjaan.

Pelatihan Project Manager for Agile, Scrum and PRINCE2 menjadi program yang relevan bagi project manager, supervisor, koordinator tim, staf operasional, praktisi teknologi informasi, wirausahawan, mahasiswa, maupun profesional yang terlibat dalam perencanaan dan pelaksanaan proyek. Penguasaan ketiga pendekatan tersebut dapat membantu peserta meningkatkan kemampuan dalam mengatur prioritas, memimpin kolaborasi, mengendalikan risiko, serta memastikan proyek tetap berjalan sesuai tujuan.

Melalui pelatihan CPM-ASP, ESAS Management berharap dapat membantu melahirkan sumber daya manusia yang lebih adaptif, kompeten, dan siap menghadapi kompleksitas proyek di berbagai sektor industri.

Bagi masyarakat dan profesional yang belum berkesempatan mengikuti kegiatan ini, segera hubungi ESAS Management—PT ESAS Edukasi Indonesia untuk memperoleh informasi mengenai jadwal pelatihan Project Manager for Agile, Scrum and PRINCE2 (CPM-ASP) pada periode berikutnya. Tingkatkan kompetensi manajemen proyek Anda dan persiapkan diri menjadi profesional yang mampu memimpin proyek secara terstruktur, adaptif, dan berorientasi pada hasil.

Share.
Leave A Reply

Exit mobile version