
Pelatihan Certified First Line Supervisor (CFLS) Batch 32 yang diselenggarakan oleh ESAS Management pada Senin malam, 14 September 2026, berlangsung dengan lancar melalui Zoom Meeting dari pukul 19.00 hingga 21.00 WIB. Acara ini diikuti oleh sejumlah peserta dari berbagai latar belakang profesi yang menunjukkan antusiasme tinggi dalam mendalami kompetensi pengawas operasional pertama, terdiri dari supervisor lapangan, praktisi QHSE, karyawan perusahaan pertambangan, hingga profesional yang ingin meningkatkan kompetensi di bidang keselamatan dan kesehatan kerja serta pengawasan operasional.
Acara dibuka oleh moderator St. Nur’aeni, S.Akt. yang kemudian langsung memberikan kesempatan kepada trainer Yakin Ermanto, S.T., selaku Praktisi & Trainer QHSE serta Senior HSE Advisor LNG, untuk memaparkan materi pelatihan. Trainer menyampaikan secara komprehensif berbagai topik penting dalam kompetensi pengawas operasional pertama, yaitu Standar kompetensi kerja khusus pengawas operasional pertama (POP) di bidang pertambangan mineral dan batubara berdasarkan Peraturan Menteri SDM No 43 Tahun 2016 yang menjadi acuan resmi dalam pelaksanaan tugas seorang pengawas operasional di sektor pertambangan. Selanjutnya, materi tentang Melaksanakan peraturan perundang-undangan terkait keselamatan pertambangan yang membahas kewajiban pengawas dalam memastikan kepatuhan terhadap regulasi keselamatan di lingkungan kerja. Trainer juga menjelaskan tentang Melaksanakan investigasi kecelakaan yang mencakup prosedur dan teknik investigasi kecelakaan kerja secara sistematis untuk mencegah terulangnya kejadian serupa, Dasar-dasar lingkungan hidup yang memberikan pemahaman tentang aspek lingkungan dalam operasional pertambangan, Job safety analysis yang mengajarkan cara menganalisis risiko pekerjaan sebelum pelaksanaan tugas, Safety meeting yang membahas cara memimpin dan mengelola pertemuan keselamatan secara efektif, Teknik pemeriksaan kecelakaan yang memberikan panduan dalam melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap kecelakaan kerja, serta HIRADC (Hazard Identification, Risk Assessment, and Determining Control) yang mengajarkan identifikasi bahaya, penilaian risiko, dan penentuan pengendalian yang tepat.
Seluruh materi disampaikan dengan metode yang interaktif dan komunikatif, trainer yang merupakan praktisi QHSE berpengalaman aktif melibatkan peserta dalam setiap sesi, memberikan kesempatan bertanya, serta merespons dengan jelas setiap pertanyaan yang diajukan. Pendekatan yang interaktif ini membuat suasana pelatihan menjadi hidup dan peserta tidak merasa bosan, bahkan materi yang kompleks pun terasa mudah dipahami karena disertai dengan contoh-contoh kasus nyata di lapangan pertambangan dan industri. Sepanjang pelatihan berlangsung, suasana Zoom Meeting kondusif dan peserta terlihat serius menyimak setiap pemaparan serta aktif mengikuti sesi diskusi yang diberikan. Meskipun dilaksanakan di malam hari setelah jam kerja, para peserta tetap menunjukkan semangat hingga sesi terakhir. Moderator St. Nur’aeni, S.Akt. bertugas mengatur jalannya acara agar tetap sesuai jadwal, dan seluruh agenda berjalan tertib serta tepat waktu tanpa kendala teknis yang berarti selama pelaksanaan Zoom Meeting.
Pelatihan dua jam ini dirancang sangat efisien, trainer berhasil menyampaikan materi yang padat namun komprehensif sehingga peserta mendapatkan pemahaman utuh tentang kompetensi pengawas operasional pertama tanpa merasa terbebani. Memasuki akhir sesi, trainer menyampaikan bahwa proses evaluasi terhadap peserta akan dilakukan secara menyeluruh dengan penilaian mencakup tiga aspek utama yaitu Sikap Kerja (30%), Pengetahuan (30%), dan Keterampilan (40%) yang dinilai berdasarkan partisipasi aktif, pemahaman materi, serta kemampuan praktis dalam menerapkan konsep pengawasan operasional yang telah dipelajari. Hasil penilaian tersebut tidak diumumkan pada malam hari itu juga, melainkan akan disampaikan maksimal H+7 hari kerja setelah pelatihan sebagaimana prosedur standar ESAS Management. Hal ini dilakukan untuk memastikan proses evaluasi berjalan cermat dan objektif sehingga setiap peserta mendapatkan penilaian yang adil sesuai dengan kompetensi yang telah ditunjukkan selama pelatihan berlangsung. Standar minimum kelulusan yang ditetapkan adalah nilai 70, dan peserta yang berhasil memenuhi standar tersebut berhak menyandang gelar non-akademik CFLS (Certified First Line Supervisor) sebagai pengakuan atas kompetensi di bidang pengawasan operasional pertama.
Setelah menyelesaikan pelatihan, seluruh peserta berhak atas berbagai benefit eksklusif dari ESAS Management. Fasilitas tersebut meliputi E-Sertifikat Kehadiran & Kelulusan sebagai bukti partisipasi dan kompetensi, E-Modul Pelatihan yang dapat diunduh dan dipelajari kembali kapan saja untuk memperdalam pemahaman, rekaman pelatihan dan akses mengulang kelas untuk meninjau kembali materi yang telah disampaikan oleh trainer, serta keanggotaan dalam Grup Bina Alumni ESAS Management sebagai komunitas profesional yang memungkinkan mereka untuk terus berjejaring, berbagi pengalaman, dan memperoleh informasi terbaru seputar dunia keselamatan kerja dan pengawasan operasional.
Pelatihan Certified First Line Supervisor Batch 32 yang berlangsung pada 14 September 2026 ini berjalan dengan sukses. Dengan bekal sertifikasi CFLS yang akan segera mereka terima setelah pengumuman hasil kelulusan, para peserta kini memiliki fondasi kompetensi yang kuat untuk mengembangkan karir di bidang pengawasan operasional dan keselamatan kerja. ESAS Management berkomitmen untuk terus menyelenggarakan pelatihan serupa guna mencetak lebih banyak pengawas operasional yang kompeten dan siap menghadapi tantangan keselamatan dan kesehatan kerja di berbagai sektor industri. Informasi lebih lanjut mengenai jadwal pelatihan dapat diakses melalui akun Instagram @esas.management, sedangkan kegiatan ESAS Management dapat dipantau melalui @esas.news.